Jumat, 03 Februari 2012

Bukan Cinta Biasa



Tidak cukup sebenarnya…
Ku ekspresikan hanya dengan satu kata
Bahkan kalau harus disimpulkan
Mungkin bisa kutulis berbulan-bulan
Begitulah…
Ketika lirik-lirik cinta berulah

Satu bait puisi diatas adalah prolog “Ketika aku dikenalkan-Nya cinta”, yang sengaja aku menulisnya untuk mewakili sebuah catatan awal tahun 2007. Ya….. Tahun 2007.
Tahun dimana aku banyak menulis tentang cita-cita, keinginan, dan target-target masa depan. Meski hanya sederhana, tapi aku berani menuliskannya. Dan itu semua karena aku dikelilingi oleh banyak cinta. Tentu yang mengenalkanku pada cinta, adalah yang maha pemilik cinta, Allah Azza wa jalla.

“derrrt  derrrt…. Derrrrrtt”, getar hapeku menandakan ada sms masuk. Kulihat jam dinding, tepat pukul 20:11. “ah, mungkin kawan lamaku sudah punya jawaban tentang pertanyaan yang aku smskan beberapa menit lalu” pikirku sambil menekan tombol unlock di hapeku. Aku tertegun sejenak membaca sms yang ternyata bukan dari kawan lamaku itu. “Kang, apakah orang seperti saya dan antum ini masih memiliki impian, harapan & cita-cita?? Impian, harapan & cita-cita yg TIDAK BIASA. Seperti al fatih murad yg mengobsesikan Konstantin. Atau seperti saladin yg mengobsesikan Al Quds??”, begitu pesan yang aku terima dari seorang kawan maen di kampus. “deg”….. aku terhenyak, mengingat kembali masa aku pernah sangat lantang menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tidak ada keraguan, dan penuh dengan optimisme. Lengkap sudah rincian step by step yang harus aku kerjakan 10 dan 20 tahun yang akan datang. Waktu itu awal tahun 2007. Dan aku menyebutnya ‘Titik nol’, awal langkah-langkah terencana yang akan mendekatkanku dengan cita-cita.

Aku melihat kalender, ternyata 28 Januari 2012. Jadi sudah lebih kurang lima tahun aku melangkah dari titik nol. Apa yang kudapat? Apa target lima tahunku sudah aku genggam? Tidak kawan, aku belum menggenggam sepenuhnya. Ada ‘kecelakaan’ yang kemudian membuatku urung membuka kembali master plan-ku dulu. Dan lucunya, banyak kawan maen di kampus yang mengalami hal serupa. Termasuk kawanku yang satu ini. Alasanya beragam, dan aku rasa dunia bisa memakluminya. Meski begitu, malu rasanya pada cita-cita. Karena aku, ia harus tertunda. Aku hanya bisa melamun, dan enggan untuk membalas sms kawanku itu. Lebih tepatnya tidak bisa menjawab.

“apa itu karena cinta?”, tanyaku kali ini pada hati yang kurasa memang pada kondisi tidak lebih banyak cinta, sebagaimana dulu ketika di titik nol. Ya… mungkin karena memang saat ini aku lagi kekurangan cinta. “Oke. Langkah pertamaku adalah menghimpun banyak cinta”, perintahku kupekikkan kepada seluruh indraku. Kuazzamkan kemudian, bulan februari 2012 adalah bulan menghimpun cinta, sebagaimana latah kaum muda sekarang yang menjadikan bulan ini bulan merah jambu. banyak beredar ‘cinta’ yang berbumbu… hemh. Tapi ku tegaskan pada mereka yang februarinya dijadikan bulan cinta, bahwa cintaku beda. Cintaku bukanlah cinta biasa. Aku akan berguru pada sang empunya cinta, dan mendapatkan sebanyak mungkin kilatan cita-cita dari tajamnya cinta-Nya.

Dan ikhtiar pertama yang aku tempuh yaitu dengan membuka kembali pintu-pintu cintaku kepada yang lebih mencintai umatnya dibanding dirinya sendiri, yaitu Rasul Allah, Muhammad SAW. Yang pada bulan ini kita memperingati muludan (istilah orang jawa), hari kelahiran beliau. Tepatnya 9 Rabi’ul Ula (ada yang mengatakan 12 Rabi’ul ula). Melalui kitab sirah nabawiyah-nya syaikh Al mubarakfury, aku membuka kembali lembaran-lembaran kehidupan sang Alquran berjalan.

Kembali kukatakan pada sorang kawan
Begitulah…
Ketika lirik-lirik cinta berulah
Maka…
Aku mencintaimu karena-Nya

Matur suwun kang!!!
Surabaya, 9 Rabi’ul Ula 1433 H

2 komentar:

Agus Alfattan mengatakan...

Ngomongin soal cinta memang nggak akan ada habisnya. Apapun cinta itu. Yang pasti semua cinta harus berlandaskan kepada Sang Maha Cinta, Allah.
www.catatansikecil.blogdetik.com

Karunia Utama mengatakan...

Selayaknya memang demikian. maka aku setuju padamu,,, kawan!!!